Masjid Raya Abdul Kadim: Megah, Menawan, dan Sarat Makna

Masjid Raya Abdul Kadim menjadi salah satu ikon religi yang menarik perhatian di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Berlokasi di Desa Epil, Kecamatan Lais, masjid ini tampil dengan arsitektur megah...

Masjid Raya Abdul Kadim - sumsel.genpi.co
Masjid Raya Abdul Kadim – sumsel.genpi.co

Masjid Raya Abdul Kadim menjadi salah satu ikon religi yang menarik perhatian di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Berlokasi di Desa Epil, Kecamatan Lais, masjid ini tampil dengan arsitektur megah yang memadukan inspirasi bangunan Islam dari Turki dan sentuhan khas Nusantara. Kemegahan bangunannya semakin kuat dengan kehadiran ornamen kursi patah yang memiliki filosofi mendalam.

Masjid Raya Abdul Kadim tidak hanya dibangun sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi wujud syukur sekaligus pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga hubungan dengan agama. Awal pembangunan dari tempat beribadah ini digagas oleh Prof. H. Abdul Kadim, ia adalah putra asli Desa Epil yang sukses di perantauan. Keberadaannya kini turut memperkenalkan Desa Epil sebagai salah satu tujuan wisata religi yang menarik di Musi Banyuasin.

Sejarah Masjid Raya Abdul Kadim

Awal pembangunan masjid ini bermula pada 2018. Sebelum proses pembangunan dilakukan, pihak keluarga, tokoh masyarakat, dan tokoh agama terlebih dahulu melakukan musyawarah. Gagasan pendirian masjid lahir dari keinginan Prof. H. Abdul Kadim untuk mengajak masyarakat semakin dekat dengan ibadah sekaligus memberikan kebanggaan bagi kampung halamannya.

Baca juga: Masjid Agung Waisai, Perpaduan Kemegahan Arsitektur dan Nilai Islami

Masjid Raya Abdul Kadim berdiri di atas lahan sekitar 1,1 hektare atau kurang lebih 11.000 meter persegi. Setelah proses pembangunan berlangsung, masjid ini kemudian diresmikan pada 12 April 2023 oleh Gubernur Sumatera Selatan. Sejak saat itu, keberadaannya berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan dan destinasi religi baru di Kabupaten Musi Banyuasin.

Nama masjid ini juga erat dengan sebutan Masjid Kursi Patah. Julukan tersebut merujuk pada sebuah ornamen besar berbentuk kursi patah yang berada di area depan masjid. Filosofinya cukup kuat, yakni menjadi pengingat bahwa seseorang yang sedang memimpin tidak boleh lalai terhadap agama dan ibadah. Pesan tersebut membuat masjid ini memiliki identitas yang lebih dalam dibandingkan sekadar keindahan visual.

Arsitektur & Interior Masjid

Dari sisi arsitektur, Masjid Raya Abdul Kadim mengadopsi inspirasi dari Hagia Sofia di Istanbul, Turki. Bentuk bangunan yang megah memberikan kesan monumental dan langsung menarik perhatian ketika dilihat dari kawasan sekitarnya. Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan elemen arsitektur Islam lainnya, termasuk pintu masjid yang terinspirasi dari Masjid Nabawi.

Proses pembangunan masjid juga menggunakan material dan pengerjaan khusus dari berbagai daerah. Sejumlah bahan bangunan didatangkan dari Yogyakarta, sedangkan ukiran masjid dibuat secara khusus oleh pengrajin dari Jepara. Perpaduan tersebut menghasilkan tampilan bangunan yang kaya detail serta menunjukkan adanya perhatian besar terhadap kualitas estetika dan pengerjaan interior.

Di dalam area masjid, tersedia ruang utama untuk ibadah, tempat imam, fasilitas wudu, dan toilet. Penataan kawasan juga dilengkapi elemen pendukung seperti kolam ikan dan area yang memberikan kesan lebih nyaman bagi pengunjung. Kehadiran fasilitas tersebut membuat Masjid Raya Abdul Kadim tidak hanya menarik untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat persinggahan yang memiliki suasana khas.

Dekorasi, Kaligrafi, dan Estetika Unik

Salah satu daya tarik paling menonjol dari Masjid Raya Abdul Kadim adalah dekorasi kursi patah atau Broken Chair. Bentuknya terinspirasi dari monumen Broken Chair di Jenewa, Swiss. Namun, makna yang digunakan pada masjid ini memiliki penafsiran tersendiri. Kursi dengan satu kaki yang patah menjadi simbol bahwa kekuasaan tanpa ketakwaan dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan dalam menjalankan amanah.

Keunikan lainnya terlihat dari keberadaan bedug berukuran sangat besar. Bedug tersebut memiliki diameter sekitar 2,3 meter dan panjang 3,5 meter. Tempat bedugnya menggunakan konsep atap rumah limas Palembang, sementara bedug didatangkan dari Cirebon. Perpaduan unsur lokal dan budaya Islam ini menjadi salah satu detail yang memperkaya karakter Masjid Raya Abdul Kadim.

Dengan arsitektur yang terinspirasi Hagia Sofia, detail interior dari pengrajin Nusantara, serta dekorasi yang sarat filosofi, Masjid Raya Abdul Kadim layak disebut sebagai salah satu masjid ikonik di Musi Banyuasin. Bangunan ini bukan hanya menghadirkan kemegahan, tetapi juga menyimpan pesan moral tentang ibadah, kepemimpinan, dan rasa syukur kepada Allah. Tak heran jika masjid ini terus menarik perhatian masyarakat dan berpotensi menjadi destinasi wisata religi yang memberikan manfaat bagi warga sekitar.

Cari Pengrajin atau Kontraktor Kubah Masjid atau Musholla?

Hubungi tim kami untuk simulasi harga gratis & survei lokasi

Cari kubah masjid terdekat? kubahku.com jawabannya!

Kami melayani seluruh kota diseluruh indonesia. Kami siap datang ke lokasi Anda dan membantu mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pemasangan kubah masjid yang kokoh dan indah.

Konsultasi Sekarang

Dapatkan kubah masjid berkualitas dengan harga terjangkau dan pelayanan terdekat dari tim ahli kami.

Ingin Menyesuaikan Kubah Untuk Proyek Masjid Anda?

Konsultasikan ukuran bangunan, lokasi proyek, pilihan bahan, motif, warna, dan estimasi pengiriman dengan admin Kubahku.com.

Konsultasi Via WhatsApp

Baca Juga

Referensi Lain Untuk Membantu Perencanaan Proyek Kubah Masjid.

Chat Admin Estimasi cepat