Masjid Agung Cirebon: Warisan Walisongo dan Arsitektur Tiga Budaya

Masjid Agung Cirebon memiliki nama resmi Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dimana ia adalah pertama sejarah yang tidak ternilai harganya di Jawa Barat. Tempat beribadah ini pertama kali dibangun oleh...

Masjid Agung Cirebon - sumber: rumah123.com
Masjid Agung Cirebon – sumber: rumah123.com

Masjid Agung Cirebon memiliki nama resmi Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dimana ia adalah pertama sejarah yang tidak ternilai harganya di Jawa Barat. Tempat beribadah ini pertama kali dibangun oleh Sunan Gunung Jati bersama para Walisongo pada tahun 1480 Masehi. Tentunya pembangunan masjid ini bukan hanya mereka yang berkonstribusi, arsitek ulung dari Majapahit bernama Raden Sepat juga ikut berkonstribusi. Dan perlu diketahui, tempat beribadah ini adalah saksi bisu dari penyebaran Islam yang yang mengkombinasikan akulturasi budaya. Nama “Sang Cipta Rasa” sendiri mempunyai makna mendalam, yakni tempat yang dibangun atas dasar kehendak bersama dari pada ulama besar. Hal ini menunjukkan semangat persatuan dan kebersamaan dalam dakwah Islam.

Masjid Agung Cirebon tidak hanya memiliki peran sebagai tempat beribadah warga setempat. Namun tempat beribadah ini juga sebagai simbol akulturasi tiga budaya besar yang mendominasi Cirebon kala itu. Tiga budaya tersebut adalah Sunda (Pajajaran), Jawa (Demak/Majapahit), dan Tiongkok. Pendekatan dalam pembangunan tempat beribadah ini sangatlah strategis, hal ini menunjukkan kearifan Walisongo yang merangkul elemen-elemen budaya lokal agar ajaran Islam dapat diterima dengan mudah. Makna dari arsitektur dan dekorasi yang terkandung didalamnya menceritakan kisah yang harmonis tentang bagaimana identitas lokal atau budaya lokal tetap dipertahankan seraya menyambut ajaran baru menurut warga kala itu.

Sejarah Pembangunan dan Peran Walisongo

Sejarah dari pembangunan tempat beribadah ini sangat erat kaitannya dengan peran Sunan Gunung Jati dan peran Walisongo lainnya. Pembangunannya langsung dikoordinasi langsung oleh para Walisongo, dimana material-material utama yang digunakan berupa tiang-tiang penyokong yang berkemungkinan dibawah dari berbagai wilayah kekuasaan Islam di Nusantara. Hal ini bisa disimpulkan atau melambangkan sebuah kekompakan dan kekuatan Islam di Jawa.

Baca juga : Masjid Menara Kudus: Warisan Toleransi dan Arsitektur Akulturatif

Salah satu elemen yang paling unik terkait dengan sejarahnya adalah Pintu Tiga, Dimana konon katanya pintu ini adalah pintu yang sengaja dibuat agar hanya dapat dilalui oleh sembilan orang sekaligus. Hal tersebut diyakini melambangkan jumlah Walisongo. Selain itu, tempat beribadah ini dihiasi dengan dekrasi piring keramik yang tertanam di dinding masjid. Konon piring keramik itu adalah hadiah dari Putri Ong Tien (istri Sunan Gunung Jati). Hal ini menunjukkan pengaruh dan hubungan kuat dengan kebudayaan Tiongkok dalam sejarang Kesultanan Cirebon.

Arsitektur yang Menyimpan Makna Filosofis

Gaya arsitektur dari Masjid Sang Cipta Rasa ini didominasi dengan desain tradisional Jawa dan Majapahit. Atap masjid yang berbentuk tumpang tiga dan tersusun mirip dengan limas, serupa dengan arsitektur Masjid Demak. Penerapan dari desain atap tersebut tidak dipilih secara sembarangan, karena desain atap tersebut adalah adaptasi dari bentuk atap meru Hindu-Buddha.

Kemudian pada bagian interior, tempat beribadah ini disokong dengan tiang-tiang penyangga, yang diantaranya terdapat satu tiang yang sangat terkenal, yakni Soko Tatal. Menurut legenda, tiang tersebut adalah hasil karya Sunan Kalijaga yang dibuat dari serpihan-serpihan kayu yang disatukan. Dimana tiang tersebut melambangkan persatuan dan gotong royong dalam penyebaran Islam.

Dekorasi Akulturasi Tiga Budaya

Dan seperti yang pernah dikatakan sebelumnya, Masjid Sang Cipta Rasa ini adalah representasi nyata dari akulturasi tiga Budaya. Contohnya pada dinding dan exterior yang dihiasi dengan banyak piring dan keramik Tiongkok yang tertanam di dinding. Pola-pola dekorasi ini dipadukan dengan ukiran khas Jawa yang ukirannya berbentuk flora untuk menyelaraskan kesenian lokal dengan ajaran Islam. Kemudian pada Mihrab dan Mimbar yang dihiasi dengan ukiran kayu yang halus dengan corak Cirebon yang sangat unik. Dimana mencerminkan kombinasi antara seni ukir Jawa dan seni ukir Sunda.

Cari Pengrajin atau Kontraktor Kubah Masjid atau Musholla?

Hubungi tim kami untuk simulasi harga gratis & survei lokasi.

Cari Kubah Masjid Terdekat? kubahku.com Jawabannya!
Kami melayani seluruh kota diseluruh indonesia. Kami siap datang ke lokasi Anda dan membantu mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pemasangan kubah masjid yang kokoh dan indah.

Konsultasi Sekarang

Dapatkan kubah masjid berkualitas dengan harga terjangkau dan pelayanan terdekat dari tim ahli kami.

Ingin Menyesuaikan Kubah Untuk Proyek Masjid Anda?

Konsultasikan ukuran bangunan, lokasi proyek, pilihan bahan, motif, warna, dan estimasi pengiriman dengan admin Kubahku.com.

Konsultasi Via WhatsApp

Baca Juga

Referensi Lain Untuk Membantu Perencanaan Proyek Kubah Masjid.

Chat Admin Estimasi cepat