
Masjid Agung Demak sendiri mempunya ciri-ciri arsitektur yang berbeda jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan beribadah islam yang lain. Perbedaan arsitektur ini menjadi daya tarik utama, mencerminkan prototipe masjid kuno di Jawa. Serta, masjid ini berprinsip sarat akulturasi yang menekankan islam, iman, dan ihsan dalam setiap struktur elemen spiritualnya
Keunikan Atap Masjid Agung Demak: Atap Tajug Tumpang Tiga
Seperti yang diketahui, kubah masjid bundar melengkung seperti kebanyakan masjid adalah desain yang sangat umum saat ini di seluruh dunia. Berbeda halnya dengan bangunan beribadah islam Demak ini yang menerapkan atap Tajug Tumpang Tiga, yakni bertingkat tiga berbentuk limas.
Atap yang diterapkan memiliki makna filosofis yang mendalam:
- Tingkat paling bawah: memiliki makan islam, yakni syahadat, salat, zakat, puasa, serta haji
- Tingkat tengah: memiliki makna iman, yakni keyakinan pada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, Qada dan Qadar
- Tingkat paling atas: memiliki makna ihsan, beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika tidak mampu, yakinlah bahwa Allah melihat kita
Penggunaan kubah tersebut terinspirasi dari arsitektur Hindu-Buddha, agar nantinya masyarakat Jawa tidak merasa asing dengan bentuk beribadahnya. Dan pada akhirnya, Walisongo pun memberi makna baru yang sialmi pada bentuk lama, serta menjadikannya media dakwah yang sangat efektif.
Saka Guru dan Saka Tatal: Simbol Persatuan
Saka Guru adalah tiang penyangga utama masjid menjadi keajaiban arsitektur dan simbol persatuan yang paling terkenal pada bangunan beribadah tersebut. Saka Guru sendiri terdiri dari empat yang dibuat oleh Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.
Salah satu tiang yang dibuat Sunan Kalijaga terlihat sangat unik dibandingkan yang lain, karena tersebut dan serpihan kayu yang disatukan dan diikat erat. Tentunya hal ini memiliki makna, yakni
- Persatuan: Menyatukan serpihan-serpihan yang berbeda, maknanya melambangkan suku dan budaya yang berbeda di Nusantara menjadi satu kekuatan
- Kekuatan dalam Keterbatasan: meksipun terbuat dari sisa-sisa dengan niat dan upaya, sebuah bangunan agung dapat tercipta
Pintu Bledeg dan Prasasti Bulus
Selain beberapa elemen diatas, Bangunan islam ini juga menyimpan beberapa artefak yang unik, salah satunya adalah Prasasti Bulus. Berbentuk kura-kura yang terletak di mihrab masjid, Bulus sendiri merupakan Candra Sengka Memet yang melambangkan tahun pembangunan masjid, dengan setiap bagian kepada bulus mewakili angka tertentu
Keunikan arsitektur yang tersemat pada bangunan ibadah bersejarah di Demak ini secara nyata mengajarkan kepada kita tentang fleksibilitas dan kebijaksanaan dakwah yang luar biasa dari para Walisongo, sebuah kemampuan untuk menyerap dan memberikan interpretasi makna baru yang Islami terhadap warisan budaya lokal, yang mana semua itu dilakukan dengan tujuan utama untuk menyebarkan prinsip fundamental Tauhid tanpa menimbulkan benturan.
Ingin Menyesuaikan Kubah Untuk Proyek Masjid Anda?
Konsultasikan ukuran bangunan, lokasi proyek, pilihan bahan, motif, warna, dan estimasi pengiriman dengan admin Kubahku.com.
Konsultasi Via WhatsApp